Welcome to BPP Kedungwaru

Selasa, 30 Maret 2021

PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN KECAMATAN KEDUNGWARI TAHUN 2022

    Pada tanggal 24 Maret 2021 dilakukan kegiatan Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kedungwaru Tahun 2022 bertempat di kantor BPP Kedungwaru. Kegiatan dihadiri oleh Bpk Eko selaku Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Dinas Pertanian, turut hadir seluruh petugas dan penyuluh BPP Kedungwaru, serta 13 Ketua Gapoktan Kecamatan Kedungwaru. Program penyuluhan merupakan perpaduan antara pemerintah dengan pemandu yang berisi tujuan penyuluhan yang nantinya akan digunakan untuk acuan penyuluhan. Demikian yang disampaikan Bpk Eko (24/3).

    Programa penyuluhan Kecamatan mulai disusun dari tingkat desa selanjutnya akan dikumpulkan menjadi satu di tingkat Kecamatan, setelah terkumpul baru akan disahkan oleh pemerintah. Hasil dari programa penyuluhan akan digunakan sebagai acuan penyuluh dalam melakukan kegiatan penyuluhan di tahun berikutnya.

    Selanjutnya para ketua gapoktan menyampaikan keluhan ataupun usulan terhadap usaha tani yang dijalaninya. Disampaikan pada desa Ringian Agung meminta usulan untuk dibuatkan jalan usaha tani. Untuk desa Bangoan dan Ngunut menyampaikan masalah melunjaknya populasi hama tikus yang menyerang tanaman tebu mereka. Selanjutnya diskusi untuk menanggapi usulan dan masalah tersebut.



Pembuatan Mie Kering Berbahan Buah dan Sayuran di Desa Winong

Pada tanggal 22 Maret 2021 telah dilakukan kegiatan pelatihan pembuatan mie kering berbahan buah dan sayuran yang diikuti oleh kelompok wanita tani KWT Winong Asri di desa Winong dengan didampingi pembimbing lapang, Ibu Rena. Kegiatan pembuatan mie ini bertujuan meningkatkan nilai tambah tanaman sayur yang dibudidayakan KWT Winong Asri dengan membuat produk unggulan berupa mie kering berbahan buah dan sayuran.

🍜Bahan yang diperlukan untuk pembuatan mie kering berbahan sayuran:

1.  70 gr Sawi, 70 gr wortel, dan 50 gr buah naga

2.  3 butir telur (1 telur digunakan per adonan)

3.  3 siung bawang putih (1 siung bawang/ adonan)

4.  1 sendok teh garam/adonan

5.  1 sendok makan minyak/adonan

6.  230 gr tepung terigu/adonan

7.  20 gr tepung tapioca/adonan

8.  Air secukupnya

🍜Alat yang diperlukan untuk pembuatan mie kering berbahan sayuran:

1.  Wadah untuk membuat adonan

2.  Blender untuk membuat pasta sayur

3.  Penggiling untuk memipihkan mie

4.  Penggiling untuk membentuk mie

5.  Timbangan

6.  Kompor

7.  Panci pengukus 

Langkah pembuatan mie kering berbahan buah dan sayur:

  1. Haluskan masing-masing buah dan sayuran dengan menggunakan blender. Kemudian tambahkan air agar menjadi pasta dengan perbandingan sebagai berikut: 70 gr Sawi = 7 sendok makan air; 70 gr Wortel = 7 sendok makan air; 50 gr Buah naga = 5 sendok makan air.
  2. Buat tiga adonan berbeda dengan masing masing adonan mencampurkan 230 gr tepung terigu, 20 gr tepung tapioca, 1 siung bawang putih yang sudah dihaluskan, 1 butir telur, 1 sendok teh garam, 1 sendok makan minyak goring, dan 3 sendok makan pasta buah dan sayur.
  3. Uleni adonan sampai semua bahan tercampur
  4. Giling adonan hingga menjadi pipih
  5. Olesi adonan menggunakan tepung terigu secukupnya agar ketika digiling menjadi bentuk mie tidak lengket
  6. Bentuk adonan menggunakan penggiling mie
  7. Timbang mie seberat 50 gr, kemudian bentuk adonan sesuai selera
  8. Kukus mie dengan menggunakan alas yang berlubang agar adonan matang merata
  9. Jemur mie sampai kering (bisa menggunakan oven apabila cuaca tidak mendukung)
  10. Mie siap dikemas dan dipasarkan.

Produk mie kering yang sudah jadi akan dipasarkan di Pasar Pojok Winong Asri dan diharapkan dapat menjadi produk unggulan bagi KWT Winong Asri serta dapat menambah penghasilan anggota KWT Winong Asri.

 

Jumat, 26 Maret 2021

Kegiatan Penyemprotan Pestisida Pada Tanaman Padi di Desa Mangunsari

Pada tanggal 12 Maret 2021 bertempat di lahan persawahan padi kelompok tani Bangun Lestari I desa Mangunsari, dilaksanakan kegiatan pengendalian penyakit hawar daun bakteri. Penyakit hawar daun bakteri dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi sehingga berujung pada penurunan hasil produksi. Pengendalian penyakit hawar daun bakteri tersebut dilakukan dengan penyemprotan fungisida Sultricob WP 93 pada tanaman padi.  Kegiatan tersebut diikuti oleh anggota kelompok tani Bangun Lestari I, petugas POPT, Penyuluh Pertanian Lapangan dan juga Koordinator BPP Kecamatan Kedungwaru.

Kegiatan diawali dengan pembekalan informasi yang berisi jenis pestisida yang akan digunakan dan takaran dosis yang digunakan harus tepat dan sesuai dengan luasan lahan. Pembekalan disampaikan oleh pembimbing lapang.

“Pestisida yang digunakan merknya Sutricob. Sutricob ini mengandung 93% fungisida dan sisanya tepung. 1/2 bungkus dapat dilarutkan pada 60 liter air.” Jelas bapak Suhartoyo pembimbing lapang POPT BPP Kedungwaru.

Setelah pembekalan, kemudian dilakukan pelarutan pestisida Sutricob pada 60 liter air didalam drum. Pada saat melarutkan pestisida sebaiknya menggunakan masker, dengan tujuan agar tidak terhirup dan berdampak pada kesehatan. Selanjutnya para petani mengambil larutan yang kemudian dimasukkan kedalam alat penyemprotan dan langsung disemprotkan pada tanaman padi yang dibudidayakannya.

Penyakit hawar daun bakteri (HDB) atau yang biasa dikenal kresek merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman padi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae. Penyakit ini dapat menginfeksi tanaman padi sejak fase vegetatif hingga fase generatif, yaitu mulai dari fase pesemaian hingga menjelang panen. Patogen menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau melalui lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun, sehingga menurunkan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis. Apabila hal ini terjadi pada fase generatif maka proses pengisian gabah kurang sempurna (Sudir, 2012).

🌾Gejala Serangan

       Gejala yang ditimbulkan oleh bakteri ini yaitu mulai dari terbentuknya garis berwarna keabu-abuan pada helaian daun yang akan berubah menjadi kuning kemudian putih. Gejala ini umum dijumpai pada stadium anakan, berbunga, dan pemasakan. Serangan penyakit pada tanaman yang masih muda dinamakan kresek, yang dapat menyebabkan daun berubah menjadi kuning pucat, layu, dan kemudian mati. Kresek merupakan bentuk gejala yang paling merusak. Perkembangan penyakit hawar daun bakteri dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama kelembapan, suhu dan cara budidaya, varietas dan pemupukan N. (Wahyudi, et.al., 2011).

🌾Pengendalian dan Pencegahan

     Penyakit bakteri padi relatif sulit dikendalikan, karena patogen beragam dan sifat genetiknya mudah mengalami mutasi, terutama virulensinya terhadap varietas padi. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri pada padi sawah menurut Yanti, et.al (2018), antara lain:

  1. Menanam varietas yang tahan terhadap serangan hawar daun bakteri. Varietas tahan lebih aman digunakan karena tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.
  2. Mengaplikasikan fugisida sintetik. Fungisida sintetik diaplikasikan ketika serangan penyakit sudah melebihi ambang batas.
  3. Mengurangi penggunaan pupuk N dengan dosis yang tinggi. Tanaman dengan penggunaan pupuk N dengan dosis yang tinggi tanpa diimbangi penggunaan pupuk Kalium akan menyebabkan tanaman menjadi lebih  rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri.
  4. Sanitasi lahan dan pergiliran tanaman yang bukan inang patogen.

        Diharapkan dengan kegiatan penyemprotan ini dapat mencegah datangnya penyakit hawar daun bakteri dan tanaman padi yang dibudidayakan petani dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal sehingga petani mendapatkan hasil panen yang menguntungkan.



 





 

 

Kamis, 18 Maret 2021

Pelatihan Pembuatan Kompos Organik pada KWT Winong Asri di Desa Winong

 


Pada tanggal 3 Maret 2021 dilakukan kegiatan pembuatan kompos di Desa Winong. Kegiatan pembuatan kompos tersebut diikuti oleh kelompok wanita tani (KWT) yang bernama Kelompok Tani Winong Asri. Kegiatan tersebut didampingi oleh seorang pendamping lapang. Kegiatan dilakukan pada pukul 15.30 di rumah ketua kelompok wanita tani, Ibu Agung.

Kegiatan diawali dengan pembekalan informasi tentang bagaimana cara pengolah pupuk dan tempat yang akan digunakan sebagai wadah pupuk tersebut. Bahan utama dari pembuatan kompos organik yaitu limbah sampah rumah tangga anggota kelompok wanita tani (KWT) di Desa Winong. Dengan memanfaatkan sampah rumah tangga yang sudah tidak terpakai, adanya pembuatan pupuk kompos organik ini bisa mendatangkan nilai tambah pada limbah tersebut. Nantinya pupuk kompos organik ini bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanaman sayuran yang ditanam oleh kelompok wanita tani (KWT) atau bisa dijual di pasar di desa Winong sehingga para anggota KWT mendapat tambahan penghasilan.

Karena anggota KWT tinggal berdekatan, maka disediakan 7 titik. Pada titik-titik tersebut disediakan tempat (drum) yang sudah dimodifikasi oleh bapak RT sebagai wadah pembuatan kompos organik. Diharapkan anggota KWT disekitar titik tersebut menyetorkan limbah sampah rumah tangga secara rutin ke tempat (drum) tersebut.

Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat kompos organik :
  1. Limbah sampah organik
  2. Limbah sampah organik
  3. Larutan EM4 atau air cucian beras Drum / bekas cat dengan tutupnya
  4. Penyangga plastik, untuk menyangga lempengan plastik
  5. Lempengan plastic, untuk saringan
  6. Karan plastik atau selang plastik kecil
Langkah pembuatan komposter :
  1. Lubangi lempengan plastik menggunakan solder atau paku yang dipanaskan. Lempengan plastik ini akan berfungsi sebagai saringan.
  2. Masukkan penyangga saringan dalam drum/ember, kemudian letakkan saringan diatas penyangga tersebut.
  3. Lubangi drum/ember pada bagian bawah, sekitar 1-2 cm dari dasar drum/ember. Lubang tersebut untuk memasang kran/selang sebagai lubang keluarnya cairan lindi yang dihasilkan dari proses pengomposan.
  4. Pasang kran atau selang pada lubang tersebut
  5. Komposter siap diisi sampah dapur

Cara pembuatan kompos menggunakan komposter :
  1. Pisahkan sampak organik dan non organik
  2. Potong kecil sampah organik menjadi sekitar 1-2 cm
  3. Semprot sampah organik dengan bioaktivator (bisa menggunakan EM4 atau air cucian beras) sampai rata.
  4. Masukkan sampah organik yang telah dipotong kecil kedalam komposter
  5. Lakukan penyemprotan setiap kali memasukkan sampah dan tutup dengan rapat kembali komposter.
  6. Penambahan sampah dapat dilakukan sampai komposter penuh.
  7. Diamkan selama kurang lebih 14 hari agar terjadi proses pengomposan.
Dari proses tersebut akan diperoleh dua produk yang bermanfaat, yaitu pupuk organik cair (POC) dan pupuk padat (kompos). Pupuk cair dikeluarkan melalui kran bagian bawah komposter dan dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman dengan menyiramkan pada tanah di sekitar tanaman, bukan pada batang tanaman. Pupuk padat (kompos) yang dihasilan perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

Manfaat dari kegiatan pembuatan kompos organik dengan berbahan dasar limbah sampah rumah tangga yaitu dapat mengurangi sampah limbah rumah tangga, hasil dari kompos organik dapat dimanfaatkan untuk memupuk tanaman sayuran anggota KWT, juga orientasi dari kegiatan ini berfokus agar para anggota mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan kompos organik.