Welcome to BPP Kedungwaru

Selasa, 06 Mei 2014


 Padi sri 


Metode SRI (System of Rice Intensification) merupakan metode budidaya padi yang hemat air dan menghasilkan produksi lebih tinggi. Pola tanam padi model SRI adalah cara bertanam padi kembali ke alam. Artinya, petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tapi memanfaatkan bahan organik yang diolah untuk menjadi sumber pupuk tanaman produksi.
Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI
1.Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai
2.Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
3.Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
4.Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
5.Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
6.Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau)
Keunggulan metode SRI 
1.Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
2,Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
3.Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
4.Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
5.Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk  organik (kompos, kandang dan Mikro-oragisme Lokal), begitu juga penggunaanpestisida.
Perbandingan pertumbuhan padi antara metode tradisional dengan metode SRI

Metode Tradisional
Metode SRI
Rata-rata
Kisaran
Rata-rata
Kisaran
Rumpun/m2
56
42-65
16
10-25
Tanaman/rumpun
3
2-5
1
1
Batang/rumpun
8,6
8-9
55
44-74
Malai/rumpun
7,8
7-8
32
23-49
Bulir/malai
114
101-130
181
166-212
Bulir/rumpun
824
707-992
5,858
3,956-10,388
Hasil panen (t/ha)
2,0
1,0-3,0
7,6
6,5-8,8
Kekuataanakar (kg)
28
25-32
53
43-69





PROSES MENANAM PADI CARA SRI

Tanah dan Pemupukan organik
Untuk mendapatkan media tumbuh yang baik maka lahan seperti tanam biasa (dibajak, digaru kemudian diratakan), tetapi pada saat digaru (pengolahan tanah kedua) dilakukan penaburan pupuk organik. Pupuk organik sebelumnya dikomposkan terlebih dahulu, sehingga kita bisa mendapatkan kompos yang Lapuk dan Jadi, hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mikroorganisme dalam tanah berkembang dengan baik.




 
Kebutuhan pupuk organik per hektar antara 7-10 ton, saat penaburan pupuk organik dan meratakan tanah air dijaga agar tidak mengalir supaya nutrisi tidak hanyut. Selanjutnya di pinggir dan ditengah petakan dibuat parit agar mudah
mengutur air. Setelah tanah diratakan air dijaga tetap macak-macak,jangan sampai kering, baik jika dilakukan selama 3-4 hari sebelum ditanami, hal ini juga akan mempermudah pembuatan garitan.
b. Menyiapkan benih yang bermutu
Menyiapkan benih yang bermutu, kegiatan ini untuk benih yang dihasilkan secara tradisional maupun benih yang diproduksi oleh pengusaha (benih berlabel). Dengan seleksi air garam,
langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut:

1.prosesnya : Masukan air dalam Keler atau Toples (yang dianggap cukup untuk menyeleksi benih yang akan ditanam atau dapat dilakukan berulang kali)., selanjutnya masukan telur Ayam atau Itik kedalam larutan air garam, sampai telur ngambang di atas permukaan air,   Pisahkan benih yang ngambang dengan yang tenggelam, lama waktu perendaman benih hanya sesaat saja untuk memisahkan benih yang hampa dan setengah bernas, kemudian benih yang tenggelam dicuci, hingga bersih, dan siap untuk disemai
. Kebutuhan benih, Kebutuhan benih untuk tanaman padi cara SRI adalah untuk 100 bata (0,14 Ha) adalah 0,7 – 1 Kg, sedangkan kebutuhan per Ha adalah 4,9 – 7 Kg per Ha. Bila dibanding dengan cara tanam biasa rata-rata kebutuhan benih per Ha adalah 35 – 45 Kg, bahkan ada yang mencapai 50 – 60 Kg, dengan demikian SRI sangat efisien
. Membuat persemaian
Persemaian untuk SRI dapat dilakukan dengan media Pipiti (Besek) atau kotak hal ini memudahkan untuk pengamatan dan seleksi benih dapat dilakukan
dengan mudah. Kebutuhan Pipiti adalah 60-70 buah ukuran 20x20 Cm, kebutuhan pipiti/ besek per 0,14 Ha (420-490 buah

per Ha). Tanah dalam pipiti sebagai media tumbuh benih dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan
1 : 1.
Cara membuat persemaian
 dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) Mencampur tanah dengan pupuk organik
2) Sebelum Pipiti/Besek diisi dengan tanah terlebih dahulu dilapisi “Daun Pisang” yang sudah dilemaskan, kemudian diisi dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik sebanyak tiga per empatnya, kemudian disiram dengan air sehingga tanah dalam Pipiti/Besek menjadi lembab.

3) Penaburan benih, jumlah benih per Pipiti/Besek antara 300 – 350 biji, setelah itu ditutup dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik (lapisan tanah penutup diupayakan tipis) kemudian dibibis lagi., selanjutnya persemaian dapat disimpan di pekarangan, hari pertama dan ke dua persemaian ditutup agar tidak

Jarak tanam SRI baik jika ditanam dengan jarak tanam lebar, antara lain 25 x 25 Cm, 27 x 27 Cm atau 30 x 30 Cm. Semakin lebar jarak tanam semakin meningkatkan jumlah anakan produktif, karena persaingan oxygen, energi matahari dan nutrisi semakin berkurang.
Pemupukan dan Pemeliharaan
Pupuk tambahan untuk SRI, dari kajian yang dilakukan di jaringang IPPHTI tanam padi metode SRI hanya dipupuk dengan pupuk organik, seperti diungkapkan diatas, diberikan pada pengolahan tanah ke dua, selanjutnya pupuk tambahan hanya diberikan dengan menyemprotkan Pupuk Organik Cair. Pupuk tersebut terbuat dari permentasi sisa makan (Juice sari hewani), Juice Tunas, Juice Buah-buahan dan permentasi kotoran hewan. Seluruh pupuk cair tersebut dapat dibuat dengan mudah petani dari bahan-bahan yang tersedia disekitar tempat tinggal petani Penyemprotan dilakukan pada tanaman berumur 2 Minggu, 4 Minggu, 6 Minggu, 8 Minggu dan setelah pembungaan masak susu.
Pola SRI yang kami kembangkan tidak menggunakan pupuk an-organik seperti Urea, TSP dan KCL maupun pupuk an-organik lainnya, juga dalam Dengan demikian seluruh proses pengelolaannya adalah dengan cara pertanian ramah lingkungan menurut konsep Pengendalian Hama Terpadu. Dalam prakteknya cara tersebut adalah melalui pendekatan pengelolaan unsur agro-ekosistem. Untuk mengelola proses tersebut maka kemampuan petani dalam
pengamatan sangat diperlukan, agar petani mampu mengambil keputusan pengelolaan yang tepat.

Pengelolaan Air dan Penyiangan,
Tanaman padi sawah berdasar praktek SRI ternyata bukan tanaman air tetapi dalam pertumbuhannya membutuhkan air, dengan demikian maka SRI ditanam pada kondisi tanah yang tidak tergenang, dengan tujuan menyediakan oxygen lebih banyak di dalam tanah, kemudian dimanfaatkan oleh akar. Dengan keadaan tidak tergenang akar akan tumbuh dengan subur dan besar. Maka tanaman dapat menyerap nutrisi sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu proses pengelolaan air dan dan penyiangan dilakukan sebagai berikut :umur padi 1-8 hst. keadaan air macak-macak kemudian umur 9-10 hari digenang 2-3 Cm ini untuk memudahkan melakukan penyiangan, setelah disiang tanaman dikeringkan sampai umur 18 hari, 19 -20 tanaman digenang, ini untuk memudahkan penyiangan ke II, selanjutnya pengeringan, pengairan kembali dan penyiangan dilakukan dengan interpal yang sama, sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berbunga tanaman diairi dan setelah padi masak susu tanaman dikeringkan kembali
sampai menjelang panen.







 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Pengendalian hama dilakukan dengan PHT, yaitu dengan menggelola unsur agro-ekosistem sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman. Pada prinsipnya pengelolaan potensi usaha tani. Dalam kaitannya dengan pengelolaan potensi usaha tani proses belajar diarahkan pada bagaimana petani mampu mengelola unsur agro-ekosistem sebai sebuah potensi yang dapat dikembangkan, contoh kemampuan petani dalam pengelolaan unsur agroekosistem sebagai praktek pertanian yang ramah lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar